Pengalaman Membaca Catatan Para Gerila Anak-Anak Karen Yang Terselamat Sampai di Tanganku

Judul Buku: Anak-Anak Karen

Penulis: Isma Ae Mohamad

Penerbit: DuBook Press

Bil. Muka Surat: 216 muka surat

ISBN: 13978670723945

Pengulas: Raja Choolan

“Aku berpaling menoleh ke arah perbukitan yang dilitupi kabus. Aku seperti mendengar suara-suara jerih memanggilku; bebaskan aku, tanah airku, merdekakan aku, tanah leluhurmu. Aku pun melangkah ke depan, suara itu masih memanggil. Aku menoleh kembali. Tunggu. Aku akan datang membebaskanmu satu hari nanti, ikrarku. Satu hari nanti.”

Begitulah nukilan akhir Vin, kanak-kanak tentera gerila Karen yang ikut berjuang dengan rakan-rakan sebayanya untuk merasai pengalaman mereka dan merakamkannya dalam bentuk catatan harian. Nukilan itu dibuat selepas dia terselamat mengharungi mimpi ngeri selama beberapa tempoh di dalam hutan bersama dengan ‘platun kecil’ yang lain.

Anak-Anak Karen adalah olahan fiksyen yang menjadikan nasib dan cita-cita si pelarian sebagai tema utamanya. Berlatar belakangkan pelarian etnik Karen yang menetap di kem pelarian di Thailand, penulis berjaya mengadun aspek konflik moral dan psikologi yang sedang dihadapi oleh para pelarian. Pelarian adalah insan biasa. Seperti kita. Biasanya kita melihat pelarian sebagai objek yang menyusahkan, menambah beban dan juga sebagai objek simpati.

Amat jarang pelarian – subjek yang sama, diangkat dengan membentangkan secara terperinci aspek cita-cita dan harapan, cinta, kasih-sayang, hasad dan benci, yang wujud dalam diri pelarian. Tidak lupa juga, di sebalik rakaman emosi para pelarian, penulis turut mengkritik golongan yang suka mengambil kesempatan atas keperitan emosi dan hidup yang dialami orang lain, apabila penulis menukilkan:

“Jangan hanya menjerit Karen merdeka! Karen merdeka! Karen merdeka! Tapi di luar sana, sedang mereka bermewahan.”

Itu adalah dialog Pak Cik Zaw, seorang tua yang dijumpai kawanan Vin sewaktu berusaha meloloskan diri mencari jalan keluar dari musuh di dalam hutan. 

Pak Cik Zaw sedang mengetuai penduduk kampung yang bertempiaran lari akibat perkampungam mereka yang dibom tanpa belas kasihan.

Bukankah itu dialog sinis yang dilemparkan kepada kita semua di alam nyata?

Dalam novel ini, Vin bukanlah watak seutama Kim, Nay, Kamal, Roxana dan Nadine, yang banyak diceritakan, tetapi perwatakan Vin adalah kekuatan dan harapan buat anak-anak pelarian. Vin adalah watak keberanian untuk menyelongkar misteri yang menyelubungi kehidupan gerila di dalam hutan. Vin adalah remaja yang hatus diberi peluang menuntut ilmu sehingga ke peringkat tertinggi dan pulang ke kampung halaman untuk menunaikan harapan anak bangsanya, sebagaimana janji yang pernah diungkapkan  dalam buku catatannya.

Ya. Bukan sahaja Vin, malah remaja lain yang sebaya dengannya juga seperti Kim, Nay, Htoo, May, Ray, Tat, Saw, Paw, dan Thara, harus mendapat peluang pendidikan tanpa had untuk membantu mengeluarkan anak bangsanya dari kemelut peperangan etnik yang hanya memberikan kerugian dan keperitan hidup.

Barangkali, sebenarnya, saya sedang membaca buku catatan Vin yang menceritakan perihal pengalamannya sebagai anak-anak Karen di hutan belantara Myanmar…

Karya ini harus dibaca bakal sukarelawan, para sukarelawan dan juga anak-anak muda yang ghairah hendak memperbaiki nasib anak bangsa masing-masing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s